Tampilkan postingan dengan label a journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label a journey. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2016

Roadtrip Suisse


Beberapa waktu yang lalu saya sempat membuat posting di salah satu group facebook mengenai roadtrip di Swiss dan responnya cukup banyak. Banyak yang meminta detail itinerary maupun tips dalam merencanakan perjalanan tersebut. Ah, kebiasaan males, baru sebulan kemudian saya mencoba untuk menulisnya. Jadi, ini tulisan terbaru saya setelah dua tahun tidak ngeblog. Hehe..
Pertama-tama, ini postingan saya:

Saya mau sharing pengalaman roadtrip saya bulan Mei  kemarin. Saya dan 3 temen saya, Elvin-Ines-Yossy, berkesempatan mengunjungi Switzerland yang terkenal dengan pegunungan Alpen nya. Dalam liburan kemaren kami pake konsep roadtrip. Ini sebenernya cara menghemat kami karena transportasi umum di Swiss cukup mahal. Alhasil banyak sekali pemandangan menarik yang berhasil kami abadikan yang biasanya hanya kami lihat di film-film. 
Ternyata mengunjungi Swiss tidak terlalu mahal jika.
1) Share trip,
2) Membawa mobil sendiri,
3) Penginapan menggunakan AirBNB dan
4) Masak sendiri.

Nah, kali ini saya mau cerita bagaimana kami membawa mobil sendiri keliling Swiss.

Pertanyaan yang sering muncul dalam postingan saya:

Apakah perlu SIM Internasional menyetir di Swiss?
  • Saya dan Elvin sebagai driver tidak mempunyai SIM Internasional, cukup SIM A saja.

Berapa biaya sewa mobil perharinya?
  •  Biaya sewa mobil disana tidak dihitung perhari. Hitungannya paket, semakin lama kami sewa mobil, semakin murah. Misal : biaya sewa 3 hari tidak jauh beda dengan biaya 2 hari. Kami waktu itu habis 8 juta untuk 7 hari sudah termasuk asuransi dan 2 driver yang di daftarkan.

Buat kami , roadtrip ini menjadi keharusan dari trip ini. Saya sendiri sudah pernah ke Eropa, jadi akan membosankan buat saya jika harus mengunjungi kota ke kota. Nyombong dikit, haha.. Yahh, bagi saya banyak kota-kota di Eropa daratan yang template-nya sama J. Begitu teman saya mengusulkan roadtrip ini, tanpa pikir panjang saya mengiyakan, meskipun sempat menyesal setelah membeli tiket (karena tabungan minimalis) tetapi sangat mensyukurinya saat meninggalkan Swiss (ngutang, ngutang dah).

Senin, 30 Juni 2014

Taman-taman Sakura

Burung-burung gereja ikut serta menikmati sakura
Hanami. Istilah itu mulai saya kenal saat browsing mengenai cherry blossom atau sakura blossom. Saya pikir hanami adalah istilah dalam bahasa jepang untuk sakura blossom. Sampai saya tiba di jepang saya baru mengerti hanami adalah kegiatan menikmati sakura dengan berkumpul-kumpul disekitar pohon sakura. Ah ini juga saya tahu dari teman saya, Mela. Banyak sekali acara yang bisa dilakukan dengan berkumpul bersama keluarga, kolega kerja ataupun kawan-kawan sepermainan. Ada yang berkumpul untuk minum teh, makan-makan, reunian, acara sekolah atau hanya sekedar mengobrol menghabiskan waktu sorenya. 

Karena hanami ini erat hubungannya dengan sakura blossom, maka tradisi ini hanya dilakukan pada awal musim semi antara akhir maret sampai awal mei. Jika di Tokyo, hanami lebih sering terlihat di taman-taman umum seperti Ueno park, Shinjuku Gyoen, Yoyogi park atau Sumida park. Di beberapa tempat, pohon sakura dipercantik dengan memberikan lampu-lampu penerang saat malam hari yang biasa disebut yozakura atau "night sakura"
Hanami di Shinjuku Gyoen

Minggu, 29 Juni 2014

Milky Way


Milky way di pagi hari
Sudah ratusan kali saya memotret langit, selalu terkagum-kagum dengan apa yang mampu diberikannya. Langit yang sama bisa menghasilkan perasaan yang berbeda. Suasana hati bisa menjadi begitu menyenangkan dengan hanya melihat senja mulai memerah. Atau hati bisa menjadi sendu karena  sang surya tak kunjung menampakkan kehangatannya. Ataupun senyuman bisa berkembang saat langin menampilkan kemolekan rembulan.

Awal bulan Mei kemaarin saya mendapatkan sebuah potret milkyway dari D90 saya. Ini baru pertama kali saya bisa mengabadikannya. Betapa senangnya bisa menikmati tarian ribuan bintang tanpa diganggu oleh kemolekan rembulan. Ah, kadang seperti inilah kita diharuskan memilih, jarang sekali kita bisa mendapatkan dua keindahan sekaligus.
Bukit berbintang

Sabtu, 31 Mei 2014

Naik Kereta Api, Tutt tutt tutt..


Bukan lagu dari judul di atas yang menemani perjalan saya selama di Jepang. Lebih banyak lagu-lagu dari Payung Teduh, White Shoes and The Couple Company ataupun King of Convenience yang bersenandung syahdu dari MP3 player saya saat melintasi rel-rel kereta di sana. Yah, kereta adalah transportasi paling efektif yang bisa digunakan untuk keliling Jepang. Meskipun tidak bisa dibilang paling murah. Tetapi sebagai turis, kita ditawarkan paket transportasi yang cukup hemat di kantong seperti JR Pass ataupun One-day Pass.

Pembelian tiket dilakukan di vending machine! itu yang saya pelajari di hari pertama di Jepang. Dengan minimnya penduduk jepang yang mengerti bahasa inggris, saya tetap berusaha bertanya dengan menunjukkan gambar one-day pass dari sebuah map guide yang saya ambil di bandara Haneda. Sepertinya penjaga pintu stasiun mengerti apa yang saya tanyakan. Ah, bahasa universal, kalau kata Paulo Coelho. Saya ikuti petuntuk dari si penjaga pintu stasiun. Hanya ada satu jalur disana atau lebih tampak seperti lorong. Setelah berjalan sekitar 100m, saya tetap tidak menemukan loket yang kemungkinan menjual tiket alih-alih malah sudah di pinggir jalan besar. Brrr, udara dingin mulai terasa. Oh, inikah udara musim semi itu, benak saya. ya, ini adalah perjalanan pertama saya ke wilayah dengan 4 musim. Di luar pun kami tidak menemukan loket yang kami cari. Ah iya, trip ke Jepang ini saya ditemani kawan saya, Mela. Terpaksa kami harus bertemu dengan pejaga pintu stasiun sebelumnya. Melihat saya kembali, tampak si penjaga loket mengerti. Beberapa detik kemudian, si penjaga pintu stasiun keluar dari biliknya menuntun saya ke vending machine di sebelah biliknya. Aha! ternyata beli tiketnya di vending machine dan yang ditunjuk oleh penjaga pintu stasiun adalah vending machine bukan arah ke loket pejualan tiket. Ingin rasanya tertawa saat itu juga. Dia melihat map guide di tangan saya, memastikan tiket mana yang saya request. Meminta saya memasukkan beberapa yen ke dalam vending machine sesuai dengan permintaan di layar. Dua kartu pun kelur dari vending machine dengan tulisan kanji yang saya tidak mengerti sama sekali. Tapi saya percaya itu adalah one day pass untuk kereta Tokyo Metro dan Toei Subway yang saya request. Pagi itu saya mengerti bahwa pembelian tiket bisa dilakukan di vending machine yang berada di setiap stasiun dan setiap setasiun tidak selalu memiliki loket penjualan tiket.

Kamis, 29 Mei 2014

My First Snowfall


Butiran partikel putih terlihat mulai bertebaran. Saya sendiri belum yakin apakah ini salju atau bukan. Tidak ada orang yang bisa saya tanyai atau sebernya saya cukup malas untuk bangun dari tempat duduk dan bertanya kepada orang-orang di dalam kereta JR Hida Limited Express Nagoya-Takayama ini. Partikel putih ini mulai menghilang digantikan oleh lanskap pegunungan dengan pepohonan berdaun warna putih. Ah entahlah, saya sendiri masih bingung apakah itu daun, serpihan batu kapur atu memang salju yang turun dari semalam. Begitu kereta berhenti, saya sudah bersiap dengan baju musim dingin hasil pinjaman dari Raga. Many thanks to Raga yang telah meminjamkan saya jaket tebal ini dan juga apartemennya selama saya di Kyoto. Ya, saya ke Jepang tidak berharap mendapatkan musim salju, jadi tidak ada persiapan untuk kostum musim dingin. Toh saya ke negeri Sakura ini untuk menikmati keindahan Sakura yang hanya bersemi satu tahun sekali. Begitu keluar gerbong kereta, angin dingin mulai terasa. Tiba tiba satu dua benda asing terasa menempel di pipi. Saya sendiri langsung mecari arah dari benda ini berasal. Mendongak ke atas terlihat ribuan butiran partikel putih melewati celah antara atap kereta dengan langit-langit stasiun. Yeay, ini salju dalam benak saya. Seperti anak kecil ingin lompat-lompat kemudian berlarian mengelilingi stasiun saking senangnya. Yah, tapi itu hanya di benak saya. Malu dong sudah gedhe. Paling yang saya lakukan hanya berputar putar di depan stasiun Takayama untuk menikmati saju ini. Ndeso! Biarin! It's my first experience with snowfall.








Minggu, 16 Februari 2014

Selingan.. pertengahan februari 2014


Sudah lama gak ada update dari blog ini. Meskipun sebenarnya beberapa kali saya pengen "pamer" foto jalan-jalan saya. Hahahaa. Tapi ya sudahlah, buat duduk manis sambil ngutak atik lightroom aja sangat malas apalagi mikir buat bikin satu paragraph cerita.

Setahun terakhir, beberapa kisah perjalan mengalir begitu saja. Setelah mendapat sertifikasi diving, saya pun mulai mengenal dunia bawah laut. Pengalaman pertama melihat wreck dan wow, how big it is. Cuman bisa lihat bagian depannya dengan bagian buritan yang terlalu dalam. Ini lebih kerasa, "tinggi" banget yak saya diving, bukannya "dalem" banget. Pertama kali melihat dua cuttlefish (sotong) sedang berbulan madu, perubahan warna kulitnya menakjubkan. Pertama kali melihat nudibranch dengan warna yang menawan bak kupu-kupu dalam laut. Waktu seakan berjalan lambat mengikuti setiap langkah sang nudibranch.

Another journey was solo traveling. Ini favorit saya. Setiap langkah merupakan kerjasama yang apik antar kaki dan otak. Tidak ada paksaan dalam setiap langkah. Seringkali mendapatkan surprise yang bisa diceritakan beberapa tahun setelahnya. Pengalaman seperti menginap di tempat orang yang baru ketemu di jalan membuat persiapan tidur makin lama karena berpikir akan dijampi-jampi sama si empunya rumah. Berhasil menyusup jadi penumpang gelap kapal express bahari dengan bantuan tukang kopi setempat. Dan mengetahui how local people do itu lebih mudah ketika jalan-jalan sendiri. New story and new knowledge.

Beberapa perjalanan direncanakan bersama sahabat. The journey was heading to seek beautiful places or just enjoying new destination with whole ingredient inside. Seperti pelarian akhir minggu dari riuhnya kota besar bermodalkan tenda untuk menikmati sejuknya udara pegunungan, air terjun dan acara masak memasak yang menyenangkan. Atau bersepeda menelusuri kota tua di suatu pulau bekas markas ekspansi Inggris ke Malaka.

Kalo ngetrip, saya gak begitu terobsesi dengan "point of interest". Misalnya saya gak menyesal saat gak dapat perfect sunrise di Penanjakan Bromo. Saya pun gak terlalu sedih kalau tidak bisa memotret birdview dari KL Tower saat explore Kuala Lumpur. Gagal diving di Derawan juga bukan hal yang perlu disesali, toh kegiatannya lainnya disana masih sangat menyenangkan. Beberapa itinerary bisa saya skip meskipun kadang kala itu menjadi "must visit" dari kawan maupun suatu situs traveling dan tidak begitu menjadi masalah. Kerena perjalanan ini adalah perjalanan saya dan tidak perlu dibandingkan. Every journey always has its own story.

The journey always give new experience, teach something and get new taste. Sometimes the trip was run out of plan but the best thing I can do is live the moment.


Sabtu, 03 Agustus 2013

Indramayu punya Pulau Biawak

Dermaga Pulau Biawak dari atas Mercusuar

Gw baru denger nama Pulau Biawak gak lebih dari setahun yang lalu. Saat itu salah satu temen  gw ngusulin sama ngajakin bikin trip ke pulau ini. Akhirnya di akhir tahun kemarin, gw sama temen temen di @reeyantravelers sepakat pulau ini menjadi wish list trip kami di 2013. Bikin trip kesini ternyata gak mudah, begitu kata trip leader kami untuk ke Pulau biawak ini, @anggaramdhany. Cuaca yang tidak bersahabat dan tidak tersedianya perahu menjadi penyebab beberapa kali penundaan keberangkatan kami kesana. Perahu nelayan menjadi pilihan untuk menyeberang demi meminimalkan budget. Hehehe, biasaa, kami kan gak kaya kaya banget.

Akhir April 2013 kemaren, akhirnya kesampean ke Pulau Biawak. Keputusan beragkat di tanggal 26 April ini sebenernya agak meragukan. Kondisi angin dan ombak di pesisir pantai Indramayu masih belum menentu. Kami selalu memantau kondisi cuaca dari @bmkg dan kabar-kabar lokal. Sampai hari H, data yang kami peroleh sepertinya memberikan signal aman untuk menyeberang ke Biawak. Sebenernya, memang cuaca paling baik ke Pulau ini adalah setelah bulan April.

Jumat malem jam 10 an, kami semua baru kumpul di terminal Kampung Rambutan. Gw termasuk peserta terakhir yang dateng. Hehehe :p. Kami langsung nyari bis jurusan Indramayu/Cirebon/Kuningan. Sasarannya adalah bis yang ngelewatin pertigaan Celeng, Indramayu. Ketemu satu bis ekonomi jurusan Kuningan, kayaknya bis terakhir. Bis ini cukup ngeselin, ngetem sama muter-muter di Pasar Rebo hampir sejam. Sekitar jam 12an bisnya baru melaju masuk tol. Jam 4 an kami sampai di pertigaan Celeng. Setelah itu dijemput sama  mas Andez dari Biawak Scuba Diving.

Nyeberang ke pulau biawak sedikit diluar rencana. Dari itinerary yang sudah ada, harusnya jam 7 pagi kami udah sampai di pemberhentian pertama, Pulau Gosong. Lah, ini malah baru berangkat dari pelabuhan Karangsong. Yahh, mau gimana lagi, berangkat dari jakartanya aja telat. Di Karangsog sendiri sudah ada dua perahu nelayan menunggu. Rombongan kami gak muat satu perahu, karena satu perahu paling hanya untuk maksimal 15 orang. Gak begitu besar memang perahunya, sehingga kalo ombak lagi gedhe, siap siap aja basah kuyup. Hahaha. Setelah empat jam terobang ambing di laut jawa, kami sampai di Pulau Gosong. Tanpa babibu, langsung nyebur, langsung snorkelingan. Hmmm, spot pertama kurang begitu menarik. Pindah ke spot kedua yang cukup menyuguhkan pemandangan hard coral dan beberapa soft coral beserta ikan-ikannya. Alkisah, dulu Pulau Gosong ini sebenernya lebih gedhe dari pada pulau biawak yang 120 ha, tapi sekarang hanya tersisa gundukan pasir yang gak lebih luas dari lapangan bola. Semua pasirnya dikeruk untuk pembangunan sebuah refinery di Indramayu. Gak heran kalau beberapa pulau di Indonesia bisa hilang buat memperluas Singapura.
Pulau Gosong

Rabu, 12 Juni 2013

A day in Ayutthaya #Bangkok




Asikk, akhirnya gw kembali lagi Thailand, ngikutin acara kantor di Bangkok. Sedikit ketidaksengajaan membuat gw dan dua temen kantor gw dapet tiket berangkat sehari lebih awal dari jadwal seharusnya. Sedikit disesali memang sama kantor gw karena harus membayar extra hotel satu malam, tapi disyukuri buat kita yang berangkat karena mendapat satu hari free untuk keliling-keliling kota.

Hmmm, pertanyaan selanjutnya adalah, kemana kita harus menghabiskan sehari ini. Dari nanya-nanya mbah gugel dan ditambah obrolan dengan temen yang abis dari sana, @totobaho dan @meladewinta, gw jadi ingin ngajak temen gw untuk mengunjungi Ayutthaya.
Ayutthaya merupakan bekas ibukota kerajaan yang hancur karena serangan Kerajaan Burma. Kota kecil ini hanya berjarak satu jam  dari Bangkok jika ditempuh dengan menggunakan minivan. Ato kata @totobaho bisa berjarak dua jam jika menggunakan kereta. Agar bisa memanfaatkan waktu dengan baik, kita memilih naik minivan dari Victory Monument. Daerah ini udah kayak BlokM, terminal bayangan dengan penjual kaki lima yang berserakan di jembatan-jembatan penyeberangan. System angkutan minivan ini hampir sama dengan omprengan di Semanggi.  Satu per satu penumpang masuk, duduk kemudian ditarik bayaran 60 baht sama si Sopir. Bener-bener harus sampai penuh baru minivan ini akan berangkat. Tapi kita gak menunggu lama, kira-kira 15 menit sampai minivan perlahan melaju ke Ayutthaya.

Biar gak kesasar, kita putuskan untuk berhenti di pemberhentian terakhir minivan ini. Berharap disana ada penyewaan sepeda ato motor yang bisa dipake keliling Ayutthaya. Tetep aja setelah muter-muter kita gak nemu satupun penyewaan disana. Yah, agak susah nanya disini, karena banyak penduduk lokal yang gak ngerti bahasa inggris dan kita pun gak bisa bahasa Thailand. Mungkin sama kayak klo misalkan orang bule pergi ke solo, orang-orang solo juga ngertinya bahasa kromo inggil yak. Sebenernya penyewaan sepeda ada di Ayutthaya, kata @totobaho pernah nyewa di sekitaran stasuin kereta, ato ada beberapa di sekitar tempat wisatanya. Tapi itu terlalu jauh dari terminal minivan buat temen gw, yahh berhubung dia juga pake high heel jalannya.  Kita pun nemu tuktuk yang bisa disewa keliling Ayutthaya. Mereka menyewakan paket keliling Ayutthaya dengan beberapa tempat wisata dalam beberapa jam. Awalnya mereka menawarkan 5 jam keliling dengan harga 1000 baht. Yah karena kita gak punya bayak waktu ato lebih tepatnya gak punya banyak duit juga, dapet kesepakatan 4 jam keliling dengan harga 400 baht.

Dari beberapa Kuil dan bekas Grand Palace yang kita kunjungi yang gw paling suka di Wat Mahathat. Tempatnya gak teralu rame karena pasti orang gak tahan muterin kawasan seluas 6 kali lapangan bola ini dalam cuaca panas terik. Beberapa Kuil tua dengan bangunannya yang sudah runtuh dan patung-patung yang sudah terpotong menghiasi kawasan ini. Mungkin jika dibandingkan dengan kawasan candi di Indonesia, kuil ini jauh lebih muda umurnya. Karena kalo diperhatikan bukannya disusun dari batu kali, kuil-kuil ini dibangun menggunkan batu bata.

Dalam 4 jam ini,  tidak semua kawasan kota tua Ayutthaya bisa kita jelajahi. Hanya beberapa saja seperti Wat Yai Cahimongkhon, Wat Mahathat, Wat Ranchaburana, Wat Thammikarat, Wat Lokayasutharam dan Wat Phra Sri Sanpet. Setelah itu kita harus segera kembali ke terminal minivan karena harus segera kembali ke Bangkok buat nganterin si ibu bos belanja di Chatuchak. Kan ini hari minggu, dan pasar Chatuchak cuman buka di week end.


Begitu masuk kota langsung disambut candi di Perempatan
Budha Stupa
Wat Yai Chaimongkon

Senin, 08 April 2013

Seminggu di Proponsi Serambi Mekkah, Lhokseumawe - Banda Aceh - Sabang

Iboih
Kesan pertama gw setelah mengunjungi Propinsi Serambi Mekkah ini.

“Segalanya akan tampak lebih mudah dari sebuah kedai kupi"
  •  Dari sebuah meja budar, segelas kopi dan orang-orang yang menjadi akrab, gw bisa mendapatkan itinerary lengkap menuju Sabang. Dari tempat penginapan, rute perjalanan, jam keberangkatan dan sekaligus harga taksiran transportasi dan penyewaan kendaraan bermotor di Sabang.
  • Dari traktiran minum kupi dan sepiring mie aceh, gw bisa mendapatkan teman yang mau mengantar gw dari penginapan di Banda Aceh ke Pelabuhan Ule Lhe keesokan harinya.
  • Dari sebuah kedai kupi juga, gw memberoleh sewaan sepeda motor dengan harga yang sesuai sekaligus titipan untuk membeli tiket kapal cepat.
  • Dari kerumunan orang-orang yang sedang  mengopi, gw memperoleh penginapan gratis di iboih dan juga tiket penyeberangan ke pulau Rubiah secara gratis.
  • Dari seorang pemilik kedai kupi, akhirnya gw bisa menyeberang kembali ke Banda Aceh tepat pada waktunya meskipun gw kehabisan jatah tiket resmi menyeberang dengan perahu cepat :p.
  • Dari sebuah warung kupi, gw menemukan teman yang bisa diajak sharing cost untuk naik taxi dari Pelabuhan Ule Lhe ke Bandara Sultan Iskandar Muda
Oke, beberapa fakta warung kupi disini,
  • Hampir semua kedai kupi di Lhokseumawe punya wi-fi. Baik itu yang kelas cafe sampai warung-warung kupi di sekitar pasar.
  • Warung-warung kupi ini membuat racikan kupinya masing-masing. Jadi, kalau ingin membeli kupi dari Aceh, belilah serbuk kupi dari warung-warung kupi ini.
  • Salah satu warung kupi di lhoksemawe menyajikan kupi dengan efek menjadi ngantuk. Hehe, ini terjadi dengan gw dan tiga temen gw yang memesan satu kupi dan 3 kupi susu.
  • Warung-warung kupi di Aceh bisa buka sampai 24 jam dan dilengkapi fasilitas nobar :D
Umm, gak afdhol klo gak ngomongin Mie Aceh paling enak selama trip ini yang didedikasikan untuk Mie Aceh Tumis made in Apayan di Lhokseumawe, Mie Razali di Banda Acehpun kalah.
Pulau Rubiah
Sunrise di Iboih

Jumat, 29 Maret 2013

Piknik di Pucak Darajat, Garut - Masih menjadi impian semu



Gw tiba-tiba pengen ngobrolin Garut setelah lihat foto-foto di sana yang jadi pengen gw share. Udah hampir setahun yang lalu gw gak lagi mengunjung kota dengan wisata air panasnya ini. Sebelumnya memang gw akan kembali ke kota ini setiap bulannya untuk mengunjungi salah satu pembangkit geothermal di Puncak Darajat. Salah satu puncak dengan ketinggian 2000m di atas permukaan laut yang menghasilkan panas alami dari perut buminya.

Puncak darajat menurut gw sangat menarik untuk dijadikan tempat kabur dari segala hiruk pikuk perkotaan. Daerah dengan temperatur rata-rata di bawah 20 degC ini menjadi tempat yang cocok untuk puluhan hektar perkebunan kol yang ditanam sepanjang tahun. Musim tanam atau musim panen pun menyajikan pemandangan yang sempurna untuk bukit-bukit di Puncak Darajat.

Selain itu adanya sumber air panas membuat waterpark-waterpark kecil semakin bermunculan di sekitar kebun kol. Meskipun ada juga beberapa yang menutup lapaknya akibat tidak begitu banyak pengunjung yang datang. Beberapa pengelola membuat wahana lain seperti menunggang kuda dan balapan ATV agar bisa bertahan dari bisnis wisata ini. Memang penginapan di sini belum begitu banyak pilihan, tidak seperti desa tetangganya, Cipanas. Kebanyakan pengunjung hanya pulang hari dan tidak meninap di sini.

Sesekali kebayang aja klo satu saat bisa gelar tikar sama bawa rantang buat makan siang disini .

Menemukan Taman laut di selatan Lampung - Pulau Kelagian, Pulau Pahawang, Tanjung Putus dan Gosongan




Pulau kecil di selatan Lampung ini membuat kami berdecak kagum. Bukan hanya dengan pasirnya yang selembut tepung, tetapi juga dengan keindahan bawah lautnya yang menawan.  Tiga mingggu yang lalu, gw bareng temen-temen di @reeyantravelers mengunjungi pulau yang masih dalam kepemilikan TNI AL ini. Pulau ini memiliki barak dan saung yang bisa digunakan sebagai tempat menginap. Air di pulau ini masih payau namun kita masih bisa menikmati listrik meskipun hanya bisa digunakan dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi.

Setelah perjalanan panjang bis Jakarta-merak, ferry merak-bakauheni, APV bakauheni-ketapang dan perahu ketapang-kelagian, akhirnya kita tiba di pulau kelagian jam 10 pagi. Kejadian-kejadian seru selama 12 jam perjalanan ini gak akan selesai diceritakan meskipun segelas kopi sudah habis menemani perbincangan kami di pertemuan2 selanjutnya.

Itinerary selanjutnya adalah snorkeling di pulau Kelagian Kecil, Pahawang Kecil, Tanjung Putus dan Gosongan. Spot pertama adalah bawah laut Kelagian Kecil yang menurut gw adalah the best spot of snorkeling di sini. 5 menit pertama gw habiskan di sekitar perahu yang hanya memberikan pemandangan karang mati dan ikan yang berwarna warni. Setelah naik dan ngobrol dengan pemilik perahu, Bang Yanto, gw memutuskan untuk snorkeling menjauh dari perahu ditemani Bang Yanto. Dan yang gw temuin selanjutnya sangat menakjubkan, bikin speechless. Beberapa kali menemukan anemone dengan ikan badut nya, karang dan anemone yang berwarna warni, kuda laut dan berbagai ikan yang baru pertama kali gw lihat di sini. Ombak di sini cukup tenang dan air lautnya yang bening membuat kita seakan berenang di kolam renang dengan lantai dasar berupa sebuah taman laut.


Sabtu, 16 Februari 2013

Between Lovina and Denpasar #Bali

Danau Buyan


Tulisan gw sebelum ini bercerita sedikit catatan perjalanan saat gw ke Menjangan. Setelah dari menjangan, sebenernya gw merencanankan untuk menginap di Singaraja. Tapi atas dasar saran pak Nono, gw memutuskan untuk menghabiskan malam di Lovina, dan siapa tahu gw bisa lihat lumba-lumba paginya :D. Tapi ternyata gw gak menginap di desa Lovina, melainkan didesa Anturan. Hehehe, ini karena terlalu banyak melamun pas di elf dan pak sopirpun lupa nurunin gw di Lovina. Ketika sadar udah 15 menit menjauh dari Lovina. Yah gw minta turun aja dan nyari hotel deket-deket sana. Ketemulah dengan Bli Tana yang akhirnya nganter ke Puri Mandara Homestay. Tempatnya bersih dan punya pendopo yang enak sebagai tempat untuk sekedar menikmati segelas kopi panas dan buku. Homestay ini yang hanya berjarak 50m dr tepi pantai sehingga suara deburan ombak pun mengiringi saat bersantai di malam hari. Sambil ngobrol ngalor ngidul, gw memutuskan besok akan ikut dolphin trip kemudian diantar bli Tana pake motor ke Bandara Ngurah Rai di Denpasar. Yah, gw terpaksa naek ojek 3 jam ke bandara karena harus mengejar penerbangan selankutnya ke Singapur. Keputusan yang nantinya gak gw sesali meskipun biaya yang gw keluarkan jadi over budget.
Lovina Coast

Jumat, 08 Februari 2013

Menjangan Island, another beauty of God Island #Bali

Menjangan Underwater taken with Aquapic
From Menjangan Island

Menjangan, daerah pertama yang ada di otak gw saat gw dapat tuga di bali. Gw harus extend ke tempat ini, dalam benak gw. Sebulan yang lalu gw juga dapat kerjaan ngantar orang bule ke Bali. Selama tiga hari itu gw tinggal di kuta, dan gw rasa daerah ini terlalu ramai untuk sebuah tempat refreshing bagi gw. Alhasil kali ini gw berniat menjelajah bai barat dan bali utara sejalan dengan tugas gw yang kebetulan ke Gilimanuk.

Sampe bali ternyata salah info, kerjaan gw cuman di Denpasar bukan ke Gilimanuk, yah terpaksa harus ngeteng ke Gilimanuknya. Oke, gw mulai nanya-nanya bagaimana gw bisa ke Gilimanuk. Jumat siang gw juga pastiin lagi ke Pak Haji cuaca di sekitar menjangan. Soalnya pada waktu yang sama, curah hujan di Jakarta lagi besar-besarnya. Oh iya, pak haji ini adalah pemilik penginapan di Pemuteran yang rencananya jadi tempat gw nginep dan ikut perahu adeknya nanti ke menjangan.
Setelah semuanya oke, gw dianterin driver sewaan kantor ke terminal Denpasar. Jam 3 sore gw udah duduk manis di dalam bis kecil. Dalam rencana gw, kalau lancar, gw akan sampai di Gilimanuk sebelum gelap dan gw bisa lanjutin perjalanan ke penginapan pak haji di Pemuteran. Yah, rencana hanya jadi rencana, bis yg udah gw naikin pake acara ngetem sejam di terminal,nunggu penumpang penuh. Alhasil gw baru nyampe terminal Gilimanuk jam delapanan.  Tanya sana sini, ada elf merah dengan jalur ke Singaraja yang gw bisa naikin dan turun di Pemuteran setelah satu jam perjalanan. Menunggu agak lama, tiba-tiba ada seorang penumpang bapak-bapak akan melanjutkan perjalanan ke Singaraja. Alih-alih nemenin gw nunggu, dia malah bilang akan lama ni klo baru dua penumpang yg ada, dan dia memlilih nyari truk yang bisa ditumpangi dari pelabuhan. Tak lama kemudian sang sopir elf pun datang. Setelah ngobrol ngalor ngidul, tampaknya gw bisa nginep di terminal klo harus nunggu kayak gini karena mobil gak akan berangkat sampe angkutan terisi kira-kira 10 orang. Yahhh, berarti gw harus berdoa akan ada 9 orang yang bernasib sama kayak gw dan itu sedikit mustahil. Dengan alasan mau cari makan dulu, akhirnya gw kabur dari bapak sopir buat cari alternative lain ke Pemuteran.
Pemberhentian Pertama Pulau Menjangan
From Menjangan Island

Senin, 24 Desember 2012

Kecak Fire Dance

Kecak dance while the sun is going down

Ini yang selalu diceritakan sama beberapa temen gw, "lo harus lihat tari kecak di Uluwatu saat sunset, It's Wonderful". Dan setelah beberapa kali ke Bali, akhirnya kesampean juga buat nontonnya. Minggu lalu gw tiba-tiba dikasih kerjaan kantor nemenin bule dari Amrik jalan-jalan ke Bali besoknya. Yippie, langsung packing, jarang jarang ni dikasih kerjaan vacation :D
A kidnapped wife named Shinta

Phuket


Phiphi Island
Yep, Phuket. Kenapa Phuket? Mumpung dapet tiket promo. Hehehe.. Yah, film The Bech nya Leonardo Di Caprio sukses membuat gw teriming-imigi buat ke salah satu daerah di Thailand ini . Tapi enggak sebegitunya sih jika dibanding kepengennya gw lihat Aurora Borealis :p.

Gerbang masuk lewat udara adalah Phuket International Airport. Tampak gak begitu susah buat keluar bandara ini, ada petunjuk yang jelas sampe list harga taxi sesuai dengan jaraknya. Penipuan turis pun sangat bisa dihindari. Tak butuh waktu lama untuk sepakat degan salah satu sopir taxi yang akan membawa kita istirahat ke penginapan. Selama tiga hari, kita tinggal di Rumblefish, hostel backpacker yang letaknya di Kata Beach. Sekamar isi ber-6, ketambahan 2 bule dari irlandia, cantik lagi. Hehe..

Kata beach sedikit beda dengan Pathong beach, tempatnya lebih sepi,begitu juga pantainya dan warna lautnya kadang terlihat hijau torquise. Di kata ini juga ada beberapa titik buat snorkeling-an. Jadi gak perlu jauh-jauh ke pulau phi-phi, yahh gak jauh beda lah.. Tapi lebih bagusan di kepulauan seribu sih :D.

The best part selama di Phuket ini ya Phiphi island. Maya bay dengan pantai turquoise nya jadi magnet para turis buat kesana. Gak perlu berpikir dua kali buat nyebur. Maya Bay ini adalah "The Beach" yang pengen gw lihat itu. Dan memang indah, meskipun gw akan lebih seneng lagi kalo tiba di pantai itu dalam keadaan sepi :D. Terlalu banyak kapal yang bersandar di sekeliling pantainya. Maya Bay berada di pulau Phiphi Leh yang tidak berpenghuni. Penduduk sekitar, tinggal di Phiphi Don yang saat ini masih berbenah kembali setelah terhempas tsunami yang sama yang terjadi di Aceh.

Sabtu, 03 November 2012

Singapore

From Singapore

Akhir September kemaren gw bareng dua temen kantor gw ada jobtrip di singapur. Ini ketiga kalinya gw ke negara yang tidak lebih luas dari ibu  kota Jakarta ini.  Gak ada perbedaan yang mencolok dari pertama kali gw kesini. Ya iya lah, baru dua tahun yang lalu.

Yang menarik buat gw mungkin keteraturan di negara ini.yang gak bs gw dapetin di Indonesia. Sampe menyeberang pun harus ngikutin lampu merah. Semua orang mengantri tanpa harus ada yang adu mulut karena nyerobot.MRT datang tepat waktu sesuai dengan jadwal. Kalo mau naik turun bis, bisanya cuman dari halte. Bersih, sampe makan permen karet pun gak boleh.

Tapi mungkin klo disuruh tinggal di negara ini, gw cuman kerasan gak lebih dari satu bulan. Gw akan mulai bosan dg keterbatasan kulinerannya, keteraturan kehidupannya, sampai keindividualan masyarakatanya. Dan yang pasti, gw harus keluar negeri jika ingin pelesir ke pantai.

Singapur sendiri merupakan destinasi wisata yang cukup menarik buat gw. Shopping mall yang sangat lengkap, meskipun harganya tak jauh beda saat Jakarta Great Sale; wisata airnya di kawaasan marina bay; dan kelompok masyarakat yang mempunyai komunitas sendiri seberti di China town, Little India dan Bugis, dengan budaya yang berbeda dari setiap komunitasnya. 
Chinatown heritage dengan cafe dan penjaja oleh-oleh di sepanjang jalan
From Singapore

Minggu, 26 Agustus 2012

Sunset at my Home Town


Penampakan di sebelah utara rumah, Paciran
Sebagai penyuka pantai, gw selalu mencari spot sunset terbaik di setiap jalan-jalan gw. Dan gw bisa tersenyum lebar hanya dengan melihat lingkaran oranye perlahan menghilang di atas garis horizon. Februari kemaren gw udah gagal mendapatkannya ketika gw ke bali dan Lombok selama 8 hari. Yep, padahal tiap hari kita selalu berhadapan dengan pantai. Cuaca memang kurang sedikit mendukung waktu itu.

Anyway,  sebenernya gw sudah sangat terhibur melihat fenomena matahari tenggelam ini. Jika matahari tak mau menunjukkan pesonanya, kadang awan yang menggantikannya dengan membuat background panggung hiburan yang sangat menakjubkan. Dan tidak akan sama di setiap pertunjukannya. Kadang seperti lautan kapas berwarna jingga. Sering juga muncul seperti ombak di atas langit. Ato sekedar memberikan garis-garis cahaya dibalik sang cumulunimbus.

Dan lagi keelokan senja tidak harus selalu tampak di atas pantai. Gw sering termangu memperhatikannya dari atas roof top kantor gw. Yang tak kalah menarik jika gw melihatnya dari balik jendela pesawat terbang. Gw pernah juga pernah memperolehnya di ujung garis jalan tol..

Ternyata spot sunset yang juga bagus gw dapetin di sebelah rumah gw. Yah, sebenernya rumah orang tua gw, di desa Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Setelah liburan ini gw mendapatkan beberapa foto indah sang surya saat tenggelam.

Mencari kerang

Jumat, 27 Juli 2012

Tanjung Bira, Bulukumba -Pantai Tiga Warna-

From Tanjung Bira, Bulukumba

Kali ini gw traveling sendiri. Beruntung gw ada kerjaan di Sulawesi Selatan, sehingga gw bisa extend tiket pulang gw dan gw bisa jalan-jalan disini. Setelah nanya-nanya driver di makasar dan hasil googling, gw memtuskan untuk menghabiskan weekend di Tanjung Bira, Bulukumba.

Dimulai dari Makassar, gw naik angkutan umum innova menuju dari terminal Malengkeri menuju Bulukumba. Ternyata gw harus menunggu sampai penuh, baru akan berangkat innovanya. Cukup lama gw nunggu, sekitar satu jam an, sampe gw cukup akrab ngobrolnya dengan salah seorang penumpang juga yang mempunyai rumah di Bulukumba. Bu Aspar.

Gw tiba di Bulukumba sekitar jam 11 malam, mungkin sudah jam malam bagi penduduk daerah sana. Sepii.. Gw beruntung ketemu dengan Bu Aspar yang menawarkan menginap dirumahnya. Akhirnya malam itu, dengan sedikit rasa was-was sebenernya, gw menginap di rumah Pak Aspar. Sampai gw pamitan dengan Pak Aspar, ternyata keluarga ini sangat baik dan ramah. Masih ada keluarga seperti ini ya di Indonesia.

Sabtu pagi, gw berangkat ke terminal bulukumba untuk mencari angkutan ke Tanjung Bira. Bareng-bareng sama orang dari pasar gw dapet angkutannya. Lumayan penuh. Dengan kondisi jalan yang cukup jelek, Bulukumba-Tanjung Bira kita tempuh sekitar 1 jam-an. Dan jam 10 pagi gw udah sampe Tanjung Bira.

Minggu, 22 Juli 2012

Ujung Kulon dengan pulau impiannya "Peucang"

From Ujung Kulon
Ujung Kulon, ya, daerah ini merupakan wilayah ujung paling barat (atau kulon dalam bahasa jawa) dari Pulau Jawa. Trip ke ujung kulon ini kita rencanain sendiri bareng temen-temen ngetrip gw pas ke Krakatau. Pas kita gathering untuk ngumpulin foto-foto di Krakatau, Yan mencetuskan ide untuk pergi ke Ujung Kulon long weekend selanjutnya. Di tanggal yang sama sebenernya gw udah rencanakan ke Pacitan bareng Raga, tapi tawaran ke UK ini begitu menarik yang membuat gw sama Raga rearrange schedule buat ke Pacitannya. Hmmm, akhirnya trip dan cerita ke pacitan malah datang lebih dulu daripada ke Ujung Kulonnya.

Anyway, kita berangkat juga ke Ujung Kulon, 16-20 Mei 2012. Rabu jam sebelas malam kita berangkat dari Ratu Plaza dengan bis sewaan dari kantornya Yan. Meskipun kepenuhan perjalanan tetap menyenangkan, sepertinya.. Soalnya yg gw inget inget cuman duduk-tidur-bangun-subuhan-sampe Sumur. Jalan Pandeglang-Sumur yang kurang begitu bagus membuat naik bis seperti naik kuda.

Sampe Sumur, kita lagsung disambut dengan gorengan dan teh manis. Hidangan paling enak di pagi itu mengalahkan KFC yang kita bawa dari Jakarta untuk bekel sarapan. Kenyang sarapan, kita langsung menuju perahu dengan membawa berkilo-kilon beras, sayur, ayam, ikan sebagai bekel 3 hari kedepan. Beberapa bekel sengaja kita bawa dari Jakarta dan ada juga yang kita beli dari penduduk sekitar Sumur.

Perjalanan pertama kita tempuh ke pulau Badul untuk bersnorkeling ria. Yah.. bukan best part tempat snorkeling di Ujung Kulon sih. Kemudian kita ke Pulau Handeleum untuk istirahat dan makan siang. Di Pulau Handeleum ini sedikit menyeramkan. Kita tidak boleh berenang di pantai karena takut nanti dimakan buaya. Disini pun hanya ada 1 rumah singgah yang dikelola pihak taman Nasional Ujung Kulon. Tempatnya lumayan, airnya bersih dan banyak, tawar pulak. Tetapi sayang, kasur yang disediakan tidak mencukupi untuk rombongan kita yang berjumalah 27 orang, sehingga beberapa orang tidur di sleeping bag yang untungnya sudah kita siapkan dari Jakarta.

Kamis, 28 Juni 2012

Gunung Kidul, geliat pariwisata Jogja

From Wisata Gunung Kidul - Jogja
Jalan-jalan gw ke Guungn kidul jogja ini adalah rangkaian dari #PacitanTrip gw. Setelah sehari sebelumnya gw mengunjungi beberapa pantai di Pacitan, hari ke-2 ini kita memutuskan menyisir pantai selatan Gunung kidul untuk mengambil memori-memori akan keindahan pantai di Nusantara.

Jam 7 pagi kita beragkat dari wisma Joglo, di Wonosari. Target pertama adalah pantai Indrayanti. Pantai indrayanti ini merupakan salah satu pantai yang terletak di satu garis pantai dengan pantai Sundak. Pantai Indrayanti saat ini menjadi primadona wisata pantai di jogja setelah berdiri salah satu penginapan  yang cukup bagus sehingga pengelolaan pantai ini ditata dengan baik.

Jam 8 kita sudah sampai di Pantai indrayanti. Suasana pantainya sudah cukup ramai, beberapa keluarga terlihat sedang bermaun ombak disana. Hal ini membuat Raga terpacu adrenalinnya untuk bermain ombak jg. Gw sendiri hanya ingin bersantai, membayangkan sedang dipijat di atas pasir putih sama mbok2 di sana. Ah ternyata setelah muter-muter, memang di pantai ini tidak menyediakan tukang pijat seperti di Bali.